Jumat, 18 Juni 2010

Bidadari Surga, Ainul Mardiyah


Dalam suatu kisah yang dipaparkan Al Yafi’i dari Syeikh Abdul Wahid bin Zahid, dikatakan: Suatu hari ketika kami sedang bersiap-siap hendak berangkat perang, aku meminta beberapa teman untuk membaca sebuah ayat. Salah seorang lelaki tampil sambil membaca ayat Surah At Taubah ayat 111, yang artinya sebagai berikut :

“Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mu’min, diri dan harta mereka dengan memberikan sorga untuk mereka”

Selesai ayat itu dibaca, seorang anak muda yang berusia 15 tahun atau lebih bangkit dari tempat duduknya. Ia mendapat harta warisan cukup besar dari ayahnya yang telah meninggal. Ia berkata:”Wahai Abdul Wahid, benarkah Allah membeli dari orang-orang mu’min diri dan harta mereka dengan sorga untuk mereka?” “Ya, benar, anak muda” kata Abdul Wahid. Anak muda itu melanjutkan:”Kalau begitu saksikanlah, bahwa diriku dan hartaku mulai sekarang aku jual dengan sorga.”

Anak muda itu kemudian mengeluarkan semua hartanya untuk disedekahkan bagi perjuangan. Hanya kuda dan pedangnya saja yang tidak. Sampai tiba waktu pemberangkatan pasukan, ternyata pemuda itu datang lebih awal. Dialah orang yang pertama kali kulihat. Dalam perjalanan ke medan perang pemuda itu kuperhatikan siang berpuasa dan malamnya dia bangun untuk beribadah. Dia rajin mengurus unta-unta dan kuda tunggangan pasukan serta sering menjaga kami bila sedang tidur.

Sewaktu sampai di daerah Romawi dan kami sedang mengatur siasat pertempuran, tiba-tiba dia maju ke depan medan dan berteriak:”Hai, aku ingin segera bertemu dengan Ainul Mardhiyah . .” Kami menduga dia mulai ragu dan pikirannya kacau, kudekati dan kutanyakan siapakah Ainul Mardiyah itu. Ia menjawab: “Tadi sewaktu aku sedang kantuk, selintas aku bermimpi. Seseorang datang kepadaku seraya berkata: “Pergilah kepada Ainul Mardiyah.” Ia juga mengajakku memasuki taman yang di bawahnya terdapat sungai dengan air yang jernih dan dipinggirnya nampak para bidadari duduk berhias dengan mengenakan perhiasan-perhiasan yang indah. Manakala melihat kedatanganku , mereka bergembira seraya berkata: “Inilah suami Ainul Mardhiyah . . . . .”

“Assalamu’alaikum” kataku bersalam kepada mereka. “Adakah di antara kalian yang bernama Ainul Mardhiyah?” Mereka menjawab salamku dan berkata: “Tidak, kami ini adalah pembantunya. Teruskanlah langkahmu” Beberapa kali aku sampai pada taman-taman yang lebih indah dengan bidadari yang lebih cantik, tapi jawaban mereka sama, mereka adalah pembantunya dan menyuruh aku meneruskan langkah.

Akhirnya aku sampai pada kemah yang terbuat dari mutiara berwarna putih. Di pintu kemah terdapat seorang bidadari yang sewaktu melihat kehadiranku dia nampak sangat gembira dan memanggil-manggil yang ada di dalam: “Hai Ainul Mardhiyah, ini suamimu datang . …”

Ketika aku dipersilahkan masuk kulihat bidadari yang sangat cantik duduk di atas sofa emas yang ditaburi permata dan yaqut. Waktu aku mendekat dia berkata: “Bersabarlah, kamu belum diijinkan lebih dekat kepadaku, karena ruh kehidupan dunia masih ada dalam dirimu.” Anak muda melanjutkan kisah mimpinya: “Lalu aku terbangun, wahai Abdul Hamid. Aku tidak sabar lagi menanti terlalu lama”.

Belum lagi percakapan kami selesai, tiba-tiba sekelompok pasukan musuh terdiri sembilan orang menyerbu kami. Pemuda itu segera bangkit dan melabrak mereka. Selesai pertempuran aku mencoba meneliti, kulihat anak muda itu penuh luka ditubuhnya dan berlumuran darah. Ia nampak tersenyum gembira, senyum penuh kebahagiaan, hingga ruhnya berpisah dari badannya untuk meninggalkan dunia. ( Irsyadul Ibad ).

http://putr4.wordpress.com/2006/08/10/bidadari-surga-ainul-mardiyah/#more-38
Read More..

Sabtu, 12 Juni 2010

Do'a Berlindung Dari Akhlak, Amal Dan Hawa Nafsu Yang Mungkar


Do’a lainnya yang disebutkan oleh An Nawawi rahimahullah dalam kitab Riyadhush Sholihin yaitu do’a yang ringkas namun penuh makna adalah do’a berikut ini. Do’a ini berisi permintaan agar dianugerahi akhlak yang mulia, juga agar diberikan taufik untuk dapat beramal sholih.

Do’a tersebut adalah: “Allahumma inni a’udzu bika min munkarotil akhlaaqi wal a’maali wal ahwaa’.”

Hadits yang menyebutkan do’a tersebut adalah:

Dari Ziyad bin ‘Ilaqoh dari pamannya, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam membaca do’a,

اللَّهُمَّ إِنِّى أَعُوذُ بِكَ مِنْ مُنْكَرَاتِ الأَخْلاَقِ وَالأَعْمَالِ وَالأَهْوَاءِ

Allahumma inni a’udzu bika min munkarotil akhlaaqi wal a’maali wal ahwaa’ [Ya Allah, aku berlindung kepadamu dari akhlaq, amal dan hawa nafsu yang mungkar].” (HR. Tirmidzi no. 3591, shahih)





Faedah dari hadits dan do’a di atas:

Pertama: Dalam do’a ini kita meminta perlindungan dari akhlak yang jelek. Do’a ini mencakup kita meminta berlindung dari akhlak yang jelek dari sisi syari’at. Termasuk pula kita meminta perlindungan pada Allah dari sesuatu yang dikenal jelek secara batin.

Kedua: Do’a ini mencakup berlindung dari akhlak mungkar seperti begitu takjub dengan diri sendiri, sombong, berbangga diri, hasad dan melampaui batas.

Ketiga: Do’a ini mencakup kita berlindung pada Allah dari amalan yang mungkar, yaitu amalan yang zhohir atau ditampakkan.

Keempat: Do’a berlindung dari amal yang mungkar mencakup zina, minum khomr dan bentuk keharaman lainnya.

Kelima: Do’a ini juga mencakup meminta perlindungan pada keinginan atau nafsu yang mungkar. Dan kebanyakan hawa nafsu mengantarkan kepada kejelekan, itulah umumnya.

Keenam: Do’a berlindung dari keinginan atau nafsu yang mungkar mencakup berlindung dari aqidah yang jelek, niatan-niatan yang batil, dan pemikiran yang sesat.

Ketujuh: Do’a ini mendorong kita agar berakhlak yang mulia dan beramal yang sholih.

Semoga yang singkat ini bermanfaat.

Referensi:

Nuhzatul Muttaqin Syarh Riyadhish Sholihin, Dr. Musthofa Sa’id Al Khin, hal. 1011, Muassasah Ar Risalah, cetakan keempat belas, 1407 H.

Tuhfatul Ahwadzi Bi Syarh Jaami’ At Tirmidzi, Al Mubarakfuri, 10/36, Darul Kutub Al ‘Ilmiyyah.

Read More..

Hukum Tertawa Ketika shalat


Ahmad bin Abdil Halim Al Haroni –Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah- pernah ditanya,

“Bagaimana jika ada seseorang tertawa ketika shalat, apakah shalatnya batal?”

Beliau rahimahullah menjawab,

“Jika sekedar tersenyum, tidak membatalkan shalat. Adapun jika tertawa –sampai terbahak-bahak-, maka itu membatalkan shalat namun tidak membatalkan wudhu menurut mayoritas ulama seperti Imam Malik, Imam Asy Syafi’i dan Imam Ahmad. Akan tetapi disunnahkan bagi yang tertawa ketika shalat untuk kembali berwudhu –menurut pendapat yang terkuat dari dua pendapat yang ada-. Alasannya, karena ketika itu ia telah melakukan suatu dosa (dengan tertawa ketika shalat). Juga kenapa dianjurkan tetap berwudhu? Hal ini demi selamat dari perselisihan ulama yang ada karena Imam Abu Hanifah menganggap tertawa ketika shalat membatalkan wudhu (sekaligus membatalkan shalat, pen).

Wallahu a’lam.”

Read More..

Do'a Berlindung Dari Hilangnya Nikmat Dan Kesehatan


Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam. Shalawat dan salam kepada Nabi kita Muhammad, keluarga dan para sahabatnya.

Satu do'a lagi yang ringkas namun penuh makna dari kitab Riyadhus Sholihin An Nawawi, yaitu do'a berlindung dari hilangnya nikmat dan datangnya penyakit.

Dari 'Abdullah bin 'Umar, dia berkata, "Di antara doa Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam adalah:

اللَّهُمَّ إِنِّى أَعُوذُ بِكَ مِنْ زَوَالِ نِعْمَتِكَ وَتَحَوُّلِ عَافِيَتِكَ وَفُجَاءَةِ نِقْمَتِكَ وَجَمِيعِ سَخَطِكَ

“ALLOOHUMMA INNII A'UUDZU BIKA MIN ZAWAALI NI'MATIK, WA TAHAWWULI 'AAFIYATIK, WA FUJAA'ATI NIQMATIK, WA JAMII'I SAKHOTHIK” [Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari hilangnya kenikmatan yang telah Engkau berikan, dari berubahnya kesehatan yang telah Engkau anugerahkan, dari siksa-Mu yang datang secara tiba-tiba, dan dari segala kemurkaan-Mu]. (HR. Muslim no. 2739)

Faedah dari hadits di atas:

Pertama: Yang dimaksud nikmat di sini adalah nikmat Islam, Iman, anugerah ihsan (berbuat baik) dan kebajikan. Jadi dalam do’a ini kita berlindung dari hilangnya nikmat-nikmat tersebut. Makus hilangnya nikmat adalah nikmat tersebut hilang dan tanpa ada penggantinya.

Kedua: Yang dimaksud dengan berubahnya kesehatan (‘afiyah) adalah nikmat sehat tersebut berubah menjadi sakit. Yang dimaksud dengan ‘afiyah (sehat) di sini adalah berpindahnya nikmat ‘afiyah dari pendengaran, penglihatan dan anggota tubuh lainnya. Jadi do’a ini kita maksudkan meminta selalu kesehatan (tidak berubah menjadi penyakit) pada pendengaran, penglihatan dan anggota tubuh lainnya.

Ketiga: Yang dimaksud fuja’ah adalah datang tiba-tiba. Sedangkan “niqmah” adalah siksa dan murka. Dalam do’a ini berarti kita berlindung pada Allah dari datangnya ‘adzab, siksa dan murka Allah yang tiba-tiba.

Keempat: Dalam do’a ini, kita juga meminta pada Allah agar terlindung dari murka-Nya yaitu segala hal yang dapat mengantarkan pada murka Allah.

Semoga do’a ini bisa kita amalkan dan mendapatkan berbagai anugerah.

Read More..

Sabtu, 29 Mei 2010

ISTIKHARAH


Istikharah merupakan sebuah tradisi yang benar-benar berakar dalam kultur masyarakat Islam. Namun sayangnya, kebanyakan manusia memiliki pandangan yang keliru tentang istikharah dan penggunaannya. Apabila suatu persoalan penting muncul dalam kehidupan mereka, tanpa menunda, merenung, berpikir, dan meminta nasihat dari orang lain, kebanyakan orang akan berusaha untuk memohon petunjuk dari Dzat Yang Maha Gaib dan melakukan istikharah tradisional. Orang-orang demikian ini, tanpa mau berikhtiar, tanpa berusaha menjalani sunnatullah, akan langsung meraih al-Qur'an atau tasbih dan mulai melakukan istikharah.
Sebagian orang akan tetap mencoba meraih apa yang mereka inginkan meskipun hasil istikharah menunjukkan indikasi negatif. Sedangkan sebagian yang lain menganggap bahwa hasil istikharah merupakan sesuatu yang wajib diterima sehingga mereka menggantungkan kehidupan dan nasib mereka pada hasil istikharah. Namun yang paling parah adalah mereka yang tidak mau beristikharah sama sekali di dalam setiap urusannya.
Kebanyakan orang yang beristikharah tidak memahami makna sesungguhnya dari istikharah dan penggunaannya secara tepat, karena mereka tidak memerhatikan langkah pendahuluannya, yakni:

1.
Menggunakan akal sehat dan intelektualitas
2.
Meminta nasihat orang lain

Langkah pendahuluan ini dapat memainkan peranan yang sangat penting dan pengaruh besar terhadap hasil sesungguhnya dari istikharah.

Beragam Jenis Istikharah dan Metode Penggunaannya

1. Istikharah melalui Doa

Makna sesungguhnya dari istikharah adalah "memohon yang terbaik dari Allah Yang Maha Penyayang", yang intinya merupakan suatu bentuk doa. Berserah diri kepada Allah SWT, memasrahkan urusan kepada Allah, dan memiliki prasangka yang baik terhadap-Nya merupakan syarat-syarat yang wajib dipenuhi sebelum seseorang memanjatkan suatu doa. Ini berarti bahwa dalam segala urusannya, orang tersebut berdoa secara tulus kepada Allah SWT, memohon agar diberi kemudahan dalam setiap urusannya dan agar dapat meraih hasil yang baik.
Istikharah (dalam segala hal) melalui doa perlu diprioritaskan. Dalam banyak hadits telah ditekankan bahwa jenis istikharah ini seharusnya dilakukan sebelum setiap langkah dijalankan, dan merupakan salah satu sebab bagi kesuksesan seseorang. Istikharah melalui doa meliputi:

*
Memuji dan mengagungkan Allah SWT seiring dengan ketundukan dan kerendahan hati terhadap-Nya.
*
Memohon kebutuhan-kebutuhan dari Dzat Yang Maha Kaya
*
Memiliki prasangka-prasangka yang baik tentang Allah SWT, bahwa Allah lebih menyukai apa yang baik bagi hamba-hamba-Nya.

Namun, hal yang paling penting adalah bahwa dengan beristikharah melalui doa, seseorang akan memiliki kedamaian pikiran dan tekad yang teguh ketika melakukan sesuatu.

2. Istikharah dengan Meminta Nasihat dari Orang Lain

Ketika seseorang ingin meraih apa yang menurutnya terbaik baginya, ia meminta nasihat dari orang lain yang memiliki kemampuan untuk memberikan nasihat kepadanya.Namun, ini harus dilakukan setelah berdoa dan memohon kepada-Nya untuk membimbingnya meraih yang terbaik menurut-Nya karena hanya Dia-lah yang benar-benar mengetahui apa yang terbaik bagi para hamba-Nya.

Setiap orang yang berpengetahuan hendaknya tidak semata-mata bertumpu pada pengetahuan dan intelektualitasnya yang terbatas dalam menyikapi setiap masalah, terutama masalah-masalah pelik. Di samping menggunakan kemampuan sendiri, ia juga perlu meminta nasihat dari orang lain dan memerhatikan apa yang dikatakan oleh orang lain. Ada kalanya perkataan yang baik (nasihat) itu justru datang dari orang yang sama sekali tak terduga. Menurut Imam Ali, seorang intelek berkewajiban untuk mengembangkan dan mematangkan intelektualitasnya melalui orang lain yang memiliki wawasan yang lebih luas. Imam Ali r.a. berkata, "Wajib bagi orang yang memiliki intelektualitas agar ia merangkaikan pandangan-pandangan dan intelejensi dari kelompok intelek dan mengombinasikan pengetahuannya dengan pengetahuan orang-orang bijak."

3. Istikharah Spiritual

Jenis istikharah ini merupakan jenis hubungan spiritual dengan Allah SWT. Istikharah ini dilakukan setelah meminta nasihat dari orang lain, dan setelah pemanfaatan intelektualitasnya tidak membawa hasil apa-apa. Maka, pada saat itu seseorang sebaiknya berdoa kepada Allah SWT dengan memohon yang terbaik. Mengadukan segala yang merisaukan hatinya dan memohon bimbingan menuju yang terbaik itu. Lalu ia dapat mengikuti apa-apa yang menjadi kemantapan hatinya.

4. Istikharah melalui Al-Qur'an

Jika setelah cara di atas dilakukan tetap belum mampu menenteramkan pikirannya, maka ia boleh merujuk pada Al-Qur'an demi menghilangkan keragu-raguan yang selama ini masih bercokol di hatinya

5. Istikharah melalui Tasbih

Istikharah ini dilakukan dengan media butir-butir tasbih. Metode ini biasa dilakukan untuk suatu urusan yang menyaratkan suatu pilihan antara ya atau tidak; melakukan atau meninggalkan sesuatu.

6. Istikharah melalui Lembaran-lembaran Kertas
Istikharah ini dilakukan dengan dua cara yakni dengan menggunakan enam lembar kertas atau yang lebih dikenal dengan dhat al riqa dan dengan menggunakan dua puluh lembar kertas undian atau Qur'ah Mubarokah. Meskipun bentuk istikharah ini hampir tidak dikenal atau dipraktikkan di lingkungan masyarakat awam, ia terbilang lazim di antara kelompok ulam Read More..